Sunday, June 24, 2018
Home > MY JOURNEY > Dari Balik Jendela Perlis

Dari Balik Jendela Perlis

Teks dan Foto : Nurazizah

Perlis siang itu cerah. Awan putih di langit biru berarak indah. Angin segar sesekali berhembus lembut, menggerak-gerakkan ujung hijab yang saya kenakan. Inilah Perlis, negeri indah di barat laut Semenanjung Malaysia.

Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Negeri Perlis Indera Kayangan. Kesempatan untuk bertandang ke Perlis datang dari undangan resmi Kelab Media Perlis (KEMPs) yang bekerjasama dengan Tourism Malaysia Medan, Majelis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Perlis (MAIPs) dan Kerajaan Perlis untuk menghadiri Simposium Media dan Program Wasatiyah Islamiyah MAIPs IMT-GT 2016. Saya termasuk salah satu yang beruntung bersama 3 rekan lainnya yang juga mendapat kesempatan ini.

Negeri beribu kota Kangar ini dipimpin oleh DYTM Tuanku Syed Sirajuddin ibni Tuanku Syed Putra Jamalullail. Beliau sudah dua kali menjadi Yang Dipertuan Agong. Selama menjadi Yang Dipertuan Agong, tampuk pimpinan untuk sementara dijalankan oleh Raja Muda. Raja Muda Perlis saat ini merupakan putra mahkota kerajaan bernama DYTM Tuanku Syed Faizuddin Putra Ibni Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail.

Pukul 9:00 WIB kami berangkat dari Kualanamu International Airport menuju Penang. Pesawat landing di Penang International Airport, Malaysia dalam waktu sekitar 45 menit. Cukup singkat kan? Selesai urusan adimistrasi dan pengambilan bagasi, kamipun segera bertolak ke Negeri Perlis.

Perjalanan darat dari Penang ke Perlis memakan waktu sekitar 2 jam. Letak Pulau Penang dan Malaysia sendiri terpisah. Namun, ada jembatan Pulau Pinang yang menjadi penghubungnya. Sepanjang jalan mulus yang kami lalui, saya melihat hamparan perkebunan sawit dan karet yang terletak di sisi kiri dan kanan jalan. Sesekali saya juga melihat hamparan sawah hijau kekuning-kuningan yang menambah pesona tersendiri.

Dua jam kemudian, tibalah kami di Negeri Perlis. Kami langsung disambut oleh Pak Shahidi Shahidan selaku Presiden KEMPs. Kami diajak ke sebuah gerai makan terkenal di Perlis. Anjung Keli namanya. Ini adalah sebuah restoran berkonsep buffet yang menyajikan ikan keli sebagai menu andalannya.

Awalnya saya penasaran dengan ikan keli yang disebut-sebut primadona di sini. Saya ambil satu ekor ikan keli goreng berikut lauk pauk lainnya. Setelah diamati, bentuk dan rasanya mirip sekali dengan ikan lele. Dagingnya empuk, memasaknya juga pas. Tidak mentah tidak pula terlalu masak. Saya bilang ke Pak Shahidi dan Pak H. Azali bin Saleh, pemilik gerai kalau di Medan ikan ini disebut ikan lele. Celotehan saya inipun disambut gelak tawa mereka.

Menikmati Ikan Keli
Menikmati Ikan Keli

Selain keli goreng, gerai ini juga menyajikan keli bakar dan keli sambal sebagai menu khasnya. Harga satu ekor keli berkisar RM 3-4. Menurut cerita Pak Azali kalau setiap harinya gerai ini menghabiskan 80 kg ikan keli. Malah kalau hari libur bisa mencapai 200 kg ikan. Hmm, luar biasa.

Gerai yang buka sejak jam 9.30 – 4.30 waktu Malaysia ini menjual 50 masakan kampong (baca : kampung). Selain menjual keli dan olahannya, di sini juga tersedia Soup, Kari, Pajri, Kerabu Selom, dan Gulai Batang Pisang yang merupakan favorit di gerai ini. Eits, sebagai teman makan, kita bisa mencoba ES Bandung Cincau yang jadi minuman andalannya. Pastinya sering dipesan.

Nah, tidak saja menyajikan makanan yang enak-enak, ternyata gerai ini juga sering kedatangan orang-orang terkenal. Mulai dari artis, pejabat pemerintahan dan kerajaan kerap makan di sini. Jika dirata-rata, dalam sehari ada 1500 orang yang datang ke sini.

Entah kenapa selama sehari itu kami disuguhi masakan olahan laut yang pastinya enak dan segar. Karena malam harinya kami diajak ke Kedai Ikan Bakar Mona yang terletak di Kuala Perlis. Di sini kita bebas memilih jenis hasil laut segar yang siap diolah menjadi aneka masakan. Mulai dari ikan, kerang, kepah, udang sampai cumi-cumi. Kamipun memilih Ikan Siakap, udang, dan cumi-cumi. Voila… tidak beberapa lama terhidanglah Ikan Siakap Bakar, Udang Masak Sambal, Sotong Goreng Terapung dan Kailan Ikan Manis di atas meja kami.

Menikmati hidangan laut di Ikan Bakar Mona, Kuala Perlis
Menikmati hidangan laut di Ikan Bakar Mona, Kuala Perlis

Saat daging ikan masuk ke mulut, rasa bumbu bakarnya lumer di lidah. Karena ikan masih segar, tentu saja ada rasa manis yang melekat. Nikmat sekali. Udang Masak Sambalnya juga tidak kalah menggiurkan. Sungguh malam pertama di Perlis kami sangat kekenyangan.

Tak terasa hari-hari begitu cepat berlalu di Perlis. Kami menjalani berbagai kegiatan bersama Raja Muda DYTM Tuanku Syed Faizuddin Putra Ibni Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail dan permasuri. Di sela-sela menjalani acara yang padat, kami sempatkan mengunjungi beberapa tempat wisata di Perlis. Salah satunya adalah masjid terapung.

Ya, tak hanya Jeddah yang memiliki masjid terapung. Karena Malaysia tepatnya Perlis juga memiliki sebuah masjid terapung yang bernama Masjid Al – Hussain. Masjid yang dibangun di Jeti Kuala Perlis ini berada di tepi pantai yang langsung menghadap ke Selat Melaka. Masjid ini memang unik. Hal ini dilihat dari segi arsitekturnya. Gerbang masjid masih berada di daratan, sementara ruang solatnya menjorok ke laut. Saat berada di dalam masjid, kita bisa melihat hamparan laut Selat Melaka yang luas. Tenang dan damai sekali rasanya.

Masjid Terapung Perlis
Masjid Terapung Perlis

Masjid istimewa ini juga memiliki dua menara kembar heksagonal yang melambangkan kalau manusia di bumi ini berawal dari dua manusia, yakni Adam dan Hawa. Selain bentuknya yang unik, menara masjid ini juga memancarkan cahaya. Pancaran cahaya merah, putih, biru, dan hijau akan dinyalakan sebagai pertanda waktu solat isya, magrib, dan subuh. Pancaran cahaya ini sendiri sebagai pertanda bagi nelayan yang melaut dan dapat dilihat hingga jarak 10 km.

Puas bertandang ke masjid terapung, kami juga diajak mengunjungi Galeri Diraja Istana Arau dan Museum Kota Kayang. Apa yang ada di sini? Banyak. Di Galeri Diraja Istana Arau kita bisa melihat beragam koleksi buah tangan yang didapat raja kala berkunjung ke berbagai tempat di dunia. Mulai dari kain kiswah ka’bah, aneka senjata, dan barang-barang unik lainnya. Sementara di Museum Kota Kayang kita bisa melihat benda-benda peninggalan raja, jenis permainan tempo dulu hingga benda-benda arkeologi yang masih disimpan rapi di sini.

Koleksi Senjata di Galeri Diraja Arau
Koleksi Senjata di Galeri Diraja Arau

Lagi-lagi tak enak rasanya kalau tak mencicipi penganan enak yang ada di Negeri Perlis. Kami juga sempat diajak ke suatu kedai kecil di Seriap, Kangar yang menjual aneka roti canai. Tekstur roti canai lebih padat namun sangat lembut. Untuk teman roti canai, kita bebas memilih antara kari, gula, atau susu. Saya sendiri memilih susu sebagai teman roti canai yang empuk ini. Satu porsi roti canai dibandrol RM 3.

Roti Canai Khas Perlis
Roti Canai Khas Perlis

Sayang sekali, tak banyak waktu saya dan teman-teman untuk mengunjungi tempat menarik lain di Negeri yang berpenduduk 300 ribu jiwa ini. Karena masih banyak destinasi yang bisa dikunjungi di sini. Seperti Gua Kelam, Taman Negeri Perlis, Taman Herba, Dataran Keris, Taman Ular & Reptil , Wang Kelian Market, dan lainnya.

Namun, menghabiskan beberapa hari di Perlis cukup membuka wawasan saya akan negeri indah yang satu ini. Perlis ibarat jendela yang menampakkan hal-hal istimewa. Sebuah negeri kecil namun memiliki banyak pesona.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *