Sunday, June 24, 2018
Home > MY JOURNEY > India is Incredible!!!

India is Incredible!!!

Om Jai Jagadish Hare
Swami Jai Jagadish Hare
Bhakt Jano Ke Sankat
Daas Jano Ke Sankat
Kshan Men Door Kare
Om Jai Jagadish Hare…

 

Saya yakin sebagian besar masyarakat Indonesia pernah mendengar lagu ini. Ya… lirik lagu ini dulu sering terdengar di tahun 1998 dalam film yang dimainkan bintang India ternama Shahrukh Khan. Film India berjudul Kuch Kuch Hota Hai membuat masyarakat dunia terpukau, terlebih Indonesia. Lagu ini sebenarnya bukanlah seperti lagu pop pada umumnya, akan tetapi lagu puja-pujaan yang digunakan masyarakat India khususnya yang beragama Hindu pada upacara penyembahan bagi Dewa Wisnu.

Ya,… alunan lagu ini langsung berputar di kepala saya ketika mendapatkan undangan dari Konjen India di Medan. Undangan menghadiri acara 5th International Buddhist Conclave 2016 yang akan diadakan di beberapa kota di India. Menginjakkan kaki di tanah Shahrukh Khan adalah salah satu mimpi perjalanan saya dari beberapa negara favorit di dunia.

Mencapai India dari Medan dan kota lain di Indonesia tidak bisa sekali jalan. Kami harus transit di Singapura atau Malaysia. Berdasarkan tiket yang diberikan kepada rombongan dari Medan dan Jakarta, kami harus transit di Negeri Seribu Satu Larangan, Singapura. Perjalanan dari Bandara Internasional Kuala Namu Medan menuju Bandara Internasional Changi di Singapura sekitar satu setengah jam.

Kami berangkat menggunakan Garuda Airlines dengan penerbangan pukul 13.30 wib. Di Changi Airport kami sampai pukul 16.30 waktu setempat. Penerbangan kami selanjutnya adalah menuju Bandara Internasional Indira Gandhi New Delhi. Jadwal keberangkatan kami adalah pukul 19.40 waktu Singapura, masih ada waktu sekitar tiga jam untuk dihabiskan di salah satu bandara terbaik di dunia ini. Dari Medan saya hanya menukarkan uang sebanyak 50 dollar singapura. Alasannya, tak banyak waktu yang dihabiskan di Singapura, paling hanya untuk membeli makanan dan minuman sekadarnya.

Uang 50 dollar singapura itu saya gunakan untuk membeli makan siang yang tak sempat saya nikmati di Medan. Hanya sekitar 10 dollar singapura yang saya belanjakan untuk membeli menu nasi lemak dan sekitar 7 dollar singapura untuk membeli air mineral berukuran sedang. Berjalan-jalan di airport ini bagi saya cukup menyenangkan, walaupun tak cukup waktu untuk mengelilingi bandara ini habis-habisan. Saya hanya singgah di beberapa toko yang menjual handphone, kamera dan sebagainya, serta mengintip di taman kupu-kupu.

Layaknya seorang traveler kaki yang sehat adalah modal utama, menurut saya bandara ini seperti mengetahui kebutuhan para pelancong. Terdapat beberapa mesin pijat kaki dengan kapasitas dua orang di beberapa sudut bandara. Menggunakan mesin ini tak membutuhkan uang, karena ini adalah satu dari sekian fasilitas gratis yang bisa dinikmati di bandara. Saya sendiri menghabiskan waktu sekitar setengah jam menggunakan mesin ini. Karena bandara yang besar ini cukup melelahkan bagi kaki saya. Saya sengaja menggunakan mesin di dekat pintu terminal keberangkatan pesawat saya. Setelah air mineral saya habis, saya langsung mengisi ulang botol kosong saya di fasilitas air minum yang juga terdapat di beberapa sudut bandara. Air di bandara ini bisa dibilang dijamin ke-steril-an nya. Kenapa? Karena Singapura sendiri terkenal dengan kebersihannya. Jadi menurut saya, kebersihan air di bandara ini tak perlu diragukan lagi.

Mendekati jadwal penerbangan berikutnya, saya bersiap mengambil antrian untuk melewati jalur keamanan. Dari antrian sudah terasa bahwa saya akan pergi ke India. Kebanyakan penumpang menuju New Delhi adalah orang India. Hidung mancung, rambut panjang bagi wanitanya, dan kulit yang gelap. Beberapa lelaki juga terlihat menggunakan penutup kepala yang khas digunakan orang berkebangsaan India. Pemeriksaan keamanan di sini termasuk ketat. Air mineral yang saya kantongi walaupun tinggal sekali teguk, tetap saja ditahan dan disuruh menghabiskan di tempat atau dibuang.

 

Kali ini kami menggunakan maskapai Jet Airways, perusahaan penerbangan swasta yang berbasis di Mumbai, India. Penerbangan Singapura ke New Delhi memakan waktu sekitar 5 jam 45 menit. Ngapain aja di pesawat selama waktu itu? Saya langsung merasa mati gaya. Tapi yang namanya pelancong seperti saya, waktu selama apapun di suatu tempat wajib mencari kenikmatan sendiri. Hahahaha…

Pesawat model sekarang ini tentunya sudah memiliki fasilitas menonton dengan layar ukuran sekitar 7 sampai 10 inchi. Berbagai pilihan film, musik dan lainnya bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Saya misalnya, memilih menonton film lawas yang belum saya tonton di Medan dan beberapa film lama yang saya sukai. Kebetulan saya adalah penggemar film. Tapi, jangan berharap film yang ada di pesawat ini ada subtitle nya ya, karena semua film Hollywood tidak pakai subtitle Indonesia. Sedangkan film India dan negara lainnya, subtitle disediakan dalam bahasa Inggris.

Di tengah perjalanan, para awak kabin yang super cantik membawakan makan malam yang seharusnya saya nikmati sejak awal. Namun karena saya baru makan siang di sore hari, perut belum terasa lapar. Tapi, saya tetap penasaran dengan menu yang disediakan. Harapan saya adalah menu makanan India yang terkenal itu. Dan benar saja, begitu saya buka kotak makanan saya, isinya adalah nasi india, plus daging ayam dengan bumbu kental berwarna hijau tua, dan tahu yang seperti digulai. Saya tak tahu nama menunya ini. Soal rasa, maaf lidah saya milik makanan Indonesia. Jadi saya membutuhkan garam sedikit untuk menaikkan sedikit rasanya. Selain nonton dan makan, salah satu cara yang paling lazim dilakukan oleh pelancong yang menempuh perjalanan jauh adalah TIDUR.

Kami sampai di Bandara Internasional Indira Gandhi pada pukul 22.55 waktu setempat. Duduk selama lima jam lebih tentunya membuat badan pegal. Tujuan utama saya di bandara adalah kamar mandi untuk melepaskan dahaga. Bandara ini memiliki travelator yang cukup panjang. Mengingat perjalanan dari turun pesawat sampai ke bagian pelaporan imigrasi bagi saya cukup panjang. Sepanjang perjalanan hanya ada travelator, kursi dan mesin minuman.

Di bagian imigrasi, pemeriksaan terhadap para pelancong cukup ketat. Selayaknya imigrasi di berbagai negara. Ketika tiba giliran saya diperiksa, entah kenapa bapak petugas imigrasi ini memeriksa agak lama. Sampai meminta undangan untuk acara yang akan saya hadiri. Karena saya bukan pelancong yang suka nge-print undangan, tiket atau apapun yang bisa di lihat melalui handphone, maka saya langsung menunjukkan undangan yang dikirimkan melalui email. Agak lama dia memeriksa handphone saya, sampai saya berpikir jangan-jangan bapak ini buka halaman facebook atau whats app saya. Hehehehe… emangnya dia ngerti bahasa Indonesia… Setelah cukup lama akhirnya dia yakin saya memang undangan untuk acara di India. Lolos, saya sudah SAH masuk ke tanah airnya Shahrukh Khan.

Setelah mengambil bagasi, rombongan dari Medan langsung bergegas menuju pintu keluar bandara. Di sana sudah ada panitia lokal yang menjemput para undangan yang tiba di hari itu. Ternyata, bukan cuma kami yang tiba di India pada hari itu. Sekitar satu jam kami harus menunggu rombongan lainnya yang berasal dari Vietnam dan Myanmar.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, laki-laki di India ternyata ganteng-ganteng. SUER!!! Biasanya kalau menonton film India di televisi atau DVD, beberapa pemain memang terlihat ganteng, seperti Shahrukh Khan, Hrithik Rosan, Amir Khan dan lainnya. Namun yang bukan pemain utama biasanya terlihat biasa saja. Bahkan kurang menarik. Tapi di sini, saya seperti di suruh mencuci mata untuk melihat keaslian laki-laki asal India. Luar biasa, hidung mancung dan wajah khas India menghampar dimana-mana. Seperti panitia lokal yang menjemput kami. Walaupun menggunakan sorban di kepala serta jambang dan kumis yang tebal, namun wajah gantengnya tidak tertutup. Mungkin saya sampai beberapa kali terlihat memandang dia sambil menganga… hahahaha …

Kebiasaan wajib bagi pelancong setelah sampai di negeri orang adalah mencari money changer dan sim card untuk digunakan selama berada di India. Saya juga menelusuri beberapa money changer. Sebelumnya saya sudah mencari lewat mbah google berapa kurs rupiah dengan rupee. Sayangnya, beberapa money changer di airport menawarkan harga tukar yang lumayan jauh perbedaan nya. Tidak mau merasa dirugikan, saya putuskan menunda penukaran uang saya setelah sampai di hotel atau di kota nantinya. Sedangkan untuk sim card, sebuah perusahaan provider yang warnanya mirip dengan provider di Indonesia menawarkan pembelian sim card sekalian pengaktifan paket data. Namun setelah saya Tanya harganya, alamaakk, mahal sekali. Satu simcard tanpa paket data saja ditawarkan dengan harga 900 rupee atau sekitar 180 ribu rupiah. Tentu saja harga ini tidak masuk akal bagi saya. Saya memutuskan mencari sim card di kota saja karena biasanya airport memang menawarkan harga yang lebih mahal dibandingkan harga diluar.

Setelah semua tamu yang ditunggu malam itu tiba di airport, kami langsung diantar menuju hotel tempat kami menginap. Namanya Hotel The Ashok berada di Chanakyapuri, Diplomatic Enclave New Delhi. Hotel tempat kami menginap adalah salah satu hotel bintang lima di kawasan New Delhi. Lokasinya strategis karena berada di kawasan diplomatik yang dikelilingi oleh kantor kedutaan besar negara-negara sahabat India.

Hotel The Ashok memiliki ratusan kamar, namun saya tidak pasti berapa jumlah kamarnya. Yang pasti hotel ini begitu besar. Semua undangan dari 39 negara yang berjumlah hampir 400 an orang ditempatkan di hotel ini. Saya iseng periksa di website hotel yang terkenal di Indonesia, tarif hotel ini cukup mengagetkan, semuanya menawarkan harga diatas dua juta rupiah per kamar per malamnya. Hmmm…

Begitu banyaknya peserta di lobi, saya pun memutuskan mencari udara segar sambil melihat-lihat di luar hotel. Udara India di bulan Oktober masih terasa panas walaupun di malam hari. Padahal, bulan Oktober sudah memasuki musim hujan. Namun selama di India, belum pernah saya merasakan hujan. Saya dan beberapa teman jurnalis dari Indonesia berkumpul diluar. Kami berkenalan dengan seorang jurnalis asal Malaysia. Ternyata dia tiba di New Delhi di siang hari. Kami pun berkenalan dan berbagi informasi tentang acara yang akan berlangsung. Wah dapat teman baru nih.

Day 1

Sejarah Islam di New Delhi

Qutb Minar

Hari pertama berada di New Delhi, menurut jadwal kami diajak berkeliling kota New Delhi mengunjungi beberapa lokasi wisata. Lokasi pertama adalah Qutb Minar. Jarak lokasi wisata Qutb Minar dari hotel kami memakan waktu sekitar 20 menit menggunakan bus.

Qutb Minar adalah sebuah saksi sejarah era Islam di India. Dimana pada abad ke 11, Dinasti Islam dimulai dengan kemenangan Sultan Qutab-Ud-Din Aibak atas raja Hindu di Delhi. Sebagai tanda kemenangan, Sultan menginstruksi pembangunan sebuah menara yang memiliki ketinggian 73 meter dari atas permukaan tanah. Berbentuk bulat dengan diameter dasar sebesar 14 meter dan semakin keatas semakin kecil.

Sebenarnya, di dalam menara ini terdapat 379 anak tangga untuk mencapai puncaknya. Namun, saat ini fasilitas menaiki menara sudah tidak dibuka untuk umum. Qutb Minar yang berarti Menara ini memiliki empat buah balkon dengan ketinggian yang berbeda-beda. Balkon ini didesign dengan stalaktit cantik yang biasa digunakan sebagai menara pengawasan keamanan dan tempat Adzan berkumandang, mengingat menara ini berdiri di dalam satu komplek dengan Masjid Quwwat Ul Islam, yang merupakan masjid pertama di India. Kentalnya nuansa Islami pada menara ini dapat terlihat dari pahatan ayat-ayat Al Qur’an di setiap sisinya. Selain ukiran dan arsitekturnya, keistimewaan Qutb Minar adalah bangunan ini murni menggunakan batu bata merah. Tidak ada besi atau baja yang menopang bangunan ini, rapat, tepat dan tegak tanpa cacat. Di dalam komplek Qutb Minar sendiri tidak hanya terdapat menara dan masjid, akan tetapi banyak lagi bangunan yang didesain unik dan menarik. Pastinya komplek Qutb Minar ini sangat cantik untuk berfoto bersama rekan seperjalanan atau selfie.

Humayun’s Tomb

Setelah melihat keindahan komplek Qutb Minar, rombongan menuju satu tempat bersejarah lainnya yaitu Humayun’s Tomb. Menuju lokasi ini dari Qutb Minar cukup lama, sekitar 30 sampai 45 menit. Kalau Taj Mahal dikatakan sebagai bangunan bukti cinta seorang suami kepada istrinya, Humayun’s Tomb sebaliknya. Bangunan yang berdiri megah di tepi Sungai Yamuna ini adalah makam Raja Humayun, raja Mughal kedua yang meninggal pada tahun 1556, yang dibangun oleh sang istri bernama Hamidah Banu Begum atau dikenal dengan Bega Begum.

Walaupun pada dasarnya bangunan ini adalah sebuah makam, namun dengan semua arsitektur, dekorasi dan taman yang ada di sekitarnya membuat bangunan ini terlihat seperti sebuah istana yang mewah. Keistimewaan Humayun’s Tomb ini bukan hanya pada kemegahannya, akan tetapi terlihat jelas bangunan ini menggabungkan tiga konsep kebudayaan di dalamnya yaitu India, Islam dan Persia. Selain Raja Humayun, komplek ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir berbagai tokoh penting dan terkenal lainnya seperti Hamidah Banu Begam dan Isa Khan tokoh Mughal. Kalau diperhatikan dengan seksama, Humayun’s Tomb ini sangat mirip dengan Taj Mahal, yang dibangun oleh dinasti Mughal termahsyur yaitu Raja Shah Jahan di Agra.

Ada cerita menarik yang saya dapatkan di tempat ini. Selain Raja dan para tokoh terkenal, di kompleks ini juga terdapat makam tukang cukur sang Raja yang bernama Nai Ka Gumbad. Ia adalah tukang cukur Raja dan merupakan salah satu teman baik sang Raja, sehingga makamnya pun diletakkan tak jauh dari makam Raja Humayun. Oh so sweet kan.

Para pelancong yang menggemari sejarah tentunya lokasi ini adalah salah satu yang wajib dikunjungi. Sedangkan bagi pecinta foto wisata, lokasi ini sangat cocok untuk tempat selfie atau objek foto. Saya sendiri menyempatkan berfoto dengan latar makam sang Raja dan pintu gerbang menuju pemakaman.

Dari kedua tempat yang saya datangi, tiket masuk bagi pelancong dan masyarakat lokal berbeda cukup jauh. Misalnya di Humayun’s Tomb, tiket masuk dikenakan 30 Rupee untuk turis lokal. Sedangkan pelancong mancanegara dikenakan 500 Rupee.

Ahhh, baru dua tempat saja kaki saya sudah lemas. Selain karena udara yang cukup panas, kedua lokasi yang saya kunjungi sangat luas. Rasanya tak cukup menjelajahi keduanya dalam waktu beberapa jam saja. Apalagi, semua bangunan yang ada benar-benar menggoda untuk difoto atau menjadi latar berselfie ria.

Day 2

Kota Kematian Varanasi

Sesuai dengan jadwal, di hari kedua rombongan berangkat menuju lokasi puncak acara yaitu di Varanasi. Dari New Delhi menggunakan pesawat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam. Tiba di Bandara International Lal Bahadur Shahstri Varanasi, cuaca di sana sungguh panas. Mungkin itu kesan pertama yang saya dapatkan ketika melangkah keluar bandara. Cuacanya lebih panas dibanding New Delhi. Mungkin sekitar 35-38 derajat celcius.

Kota Varanasi bagi saya cukup asing terdengar. Kalau Agra dengan Taj Mahal nya siapa yang tak tahu. Tapi Varanasi baru kali ini saya dengar. Sepanjang perjalanan menuju hotel, Tour Guide kami menjabarkan seperti apa kota Varanasi.

Kalau umat Muslim pergi ke Mekkah, umat Kristen ke Yerusalem atau Betlehem, umat Katolik ke Vatikan maka umat Hindu dan Buddha akan pergi ke Varanasi. Kota ini dikenal juga dengan nama Benares. Terletak di Negara bagian Uttar Pradesh di India Utara, Varanasi memiliki julukan sebagai Kota Kematian. Kenapa? Jadi, menurut   penganut agama Hindu, Varanasi adalah kota kesukaan Dewa Wisnu dan Syiwa. Setiap umat Hindu yang meninggal di Varanasi dipastikan akan mencapai surga tanpa mengalami reinkarnasi. Karenanya, banyak para orang tua yang memilih menghabiskan sisa hidupnya di Varanasi agar dapat menghembuskan nafas terakhir di kota ini. Selain itu, ada sekitar 100 ghats (jalan setapak yang mengarah ke Sungai Gangga) yang sebagian besarnya digunakan untuk kremasi atau pembuangan mayat yang dibakar.

Bagi saya, dibalik ngerinya julukan untuk Varanasi, satu yang paling penting bagi pelancong perempuan seperti saya adalah oleh-oleh apa yang bisa dibawa dari kota ini. Yup, jangan salah, Varanasi juga dikenal dunia karena menjadi kota penghasil kain sari India. Katun dan sutra terbaik untuk bahan pakaian wanita India berasal dari Varanasi yang dikenal dengan Saree Sutra Benares. Soal harga, mulai dari yang termurah sampai termahal ada di sini. Yesss… bayang-bayang membeli oleh-oleh kain sari dari pusatnya langsung bermain di kepala saya.

Setibanya di hotel kami hanya memiliki waktu untuk check in, meletakkan tas dan mencuci muka. Rombongan akan melanjutkan perjalanan untuk melihat ritual yang bernama Gangga Arti atau doa untuk sungai Gangga. Satu yang menarik mata saya adalah di sebuah jalan yang kami lewati, ada sebuah toko yang menjual senjata… ya senjata. Ternyata, kepemilikan senjata di kota ini tidak terlalu ketat. Bayangkan sampai ada tokonya di pinggir jalan. Ya itu hanya selingan. Hehehehe

Kami menelusuri jalan kota Varanasi untuk menuju ke sebuah ghats yang berdekatan dengan pasar tradisional. Mata saya dimanjakan dengan pemandangan para penjual mainan, makanan, kain, sepatu sampai panci-panci berwarna kuning emas yang biasa saya lihat di film Bollywood. Tour Guide kami menyebutkan bahwa pasar yang kami lewati adalah salah satu pasar tradisional dengan lalu lintas yang sangat padat karena banyak produk asli Varanasi dijual di sini. Wow… berarti saya tahu harus pergi kemana mencari oleh-oleh.

Catatan kecil bagi saya, walaupun dikatakan sebagai kota suci umat Hindu dan Buddha, pada kenyataannya kota ini memiliki banyak jenis keyakinan agama dan jenis ibadah. Tak jarang saya melihat para wanita menggunakan jilbab yang menandakan ia seorang muslim. Yang cukup fantastis di telinga saya adalah ketika salah seorang peserta menanyakan keberadaan suku Aghori. Baru kali ini saya mendengar cerita tentang sekte Aghori. Diketahui, mereka adalah sekte pertapa Hindu yang berpusat di Varanasi. Secara singkat dijelaskan bahwa Sekte Aghori atau dikenal dengan Sadhus Aghori memiliki ritual memakan mayat. Yap.. mayat.

Sadhus Aghori umumnya berada di tepi sungai Gangga, di dekat kuburan atau lokasi kremasi. Dalam ritual mantranya mereka menggunakan mayat manusia. Minum dari tengkorak kepala manusia, beraksesoriskan tulang belulang manusia, hingga membedaki tubuh dengan abu kremasi. Namun, mereka bukan pembunuh. Sadhus Aghori mendapatkan mayat dari Sungai Gangga. Di India, khususnya di Sungai Gangga, mayat mengambang adalah hal yang wajar. Dalam keyakinan Hindu, ada beberapa jenis orang yang tidak akan dikremasi yaitu, anak-anak, orang suci, wanita hamil, wanita yang belum menikah dan mereka yang meninggal karena kusta, bunuh diri atau digigit ular. Selain itu, ritual kremasi sendiri ternyata membutuhkan uang yang tidak sedikit, dimana penggunaan kayu bakar dengan jumlah yang cukup banyak membuat masyarakat dari kalangan tidak mampu harus merelakan prosesi kremasi.

Mayat kerabat yang tidak dibakar diapungkan di atas Sungai Gangga dengan kepercayaan akan menghapuskan semua dosanya. Nah, mayat-mayat inilah yang diambil oleh para Shadus Aghori untuk digunakan sebagai altar, membentuk aksesoris atau perlengkapan dari tulang atau memakan dagingnya. Tapi jangan salah, Sadhus Aghori tidak pernah membunuh manusia atau hewan sekalipun. Mereka pada umumnya hidup dalam ketenangan dan terkenal dengan kemampuan menyembuhkan penyakit.

Kembali ke perjalanan, rombongan akhirnya mencapai lokasi terakhir bus, selebihnya untuk melihat ritual Gangga Arti kami harus berjalan kaki menelusuri ghats atau anak tangga di tepian sungai Gangga. Sebanyak 9 altar atau panggung kecil yang disiapkan untuk melakukan ritual doa bersama ini.

Proses doa bersama ini bagi saya seolah dipimpin oleh sembilan laki-laki muda berdiri di atas panggung kecil menghadap Sungai Gangga, di belakangnya berdiri dua orang remaja wanita yang sudah berhias dengan sangat cantik. Di belakang mereka atau di barisan kursi penonton terdapat panggung kecil berisi para pemain musik untuk mengiringi ritual ini.

Sebelum dimulai, beberapa tokoh Hindu didaulat untuk berdoa di pinggiran sungai Gangga, dan menuangkan air serta bunga ke sungai sebagai tanda ritual doa bersama akan dimulai. Suara yang keluar dari cangkang keong yang ditiup oleh sembilan pemuda di atas panggung kecil menandakan prosesi Gangga Arti dimulai. Sembilan pendeta muda ini mulai mengucapkan doa-doa. Alunan musik mengiringi setiap gerakan para pendeta muda ini yang terlihat seperti menari. Dupa, lilin, obor dan lampu api bergantian diangkat keatas, ke kanan dan ke kiri sambil terus mengucapkan doa. Ritual Gangga Arti ini berlangsung selama beberapa jam. Dimana doa bersama ini biasanya dilakukan setelah matahari terbenam.

Bagi saya, ritual doa bersama ini membuat saya menganga sekaligus merinding. Tak pernah seumur hidup saya merasakan getaran doa yang begitu sakral dibarengi dengan kemeriahan seperti layaknya sebuah perayaan. It’s Incredible!

Day 3

Sarnath, Cikal Bakal Buddha

Hari ketiga, rombongan menuju Sarnath masih di negara bagian Uttar Pradesh India Utara. Dari lokasi kami menginap, menuju ke Sarnath memakan waktu sekitar 30 menit. Sarnath adalah tempat dimana Buddha pertama kalinya mengajarkan Dharma. Oleh karena itu, sepantasnya Sarnath dikatakan sebagai cikal bakal agama Buddha di India.

Mulai dari pintu masuk, mata ini serasa dimanjakan dengan pemandangan situs-situs bersejarah yang sangat kental. Sejarah mengatakan bahwa Sarnath merupakan komplek situs-situs bersejarah yang masih tersisa. Sebagian besar bangunan di sini rusak bahkan hancur akibat invasi Turki di masa lampau.

Mata saya langsung tertuju pada deretan situs yang mirip seperti pondasi bangunan. Namun ada juga dalam baying-bayang saya bahwa bangunan itu terlihat seperti tempat duduk Buddha Gautama beserta pengikutnya dalam keadaan bersila. Teryata setelah saya bertanya dengan Tour Guide dan beberapa biksu yang ikut dalam rombongan kami, situs kuno itu disebut Stupa Dharmarajika.

Selain itu, terlihat jelas sebuah bangunan yang tinggi dan besar. Para bikhu dan bikhuni langsung mendekati bangunan ini dan melakukan doa. Bangunan ini di mata saya terlihat sangat megah dan sakral. Situs ini dinamakan Stupa Dhamek yang memiliki ketinggian sekitar 45 meter dan 28 meter untuk diameternya.

Di bagian lainnya, ada Vihara Mulagandhakuti. Katanya, vihara yang saya datangi ini adalah yang modern, karena yang aslinya sudah rusak dalam masa invasi. Vihara Mulagandhakuti yang sebelumnya adalah sebuah vihara dimana Buddha menghabiskan musim hujan pertama. Sementara di Vihara yang baru atau modern terdapat altar, diatasnya ada patung Buddha berlapis emas dan di hadapannya terdapat potongan gigi Buddha. Potongan gigi ini diletakan dalam wadah kecil, dilindungi dengan besi berhias yang berbentuk seperti cangkang telur. Bagi pengunjung yang ingin melihat potongan gigi ini, di depan pelindung diberikan kaca pembesar.

Day 4

Bodhgaya

Hari keempat agak menarik bagi saya, dimana rombongan diharuskan check out dari hotel di Varanasi pukul 3 dini hari. Hal ini dilakukan untuk mengejar pesawat pertama menuju Bodhgaya di negara bagian Bihar India. Jarak dari Varanasi ke Bodhgaya dengan penerbangan memakan waktu sekitar 1 jam. Kenapa Bodhgaya? Well, India memiliki tiga dari empat situs ziarah yang ditunjuk oleh Buddha Gautama sendiri, Lumbini yang berada di Nepal adalah tempat kelahiran Buddha Gautama, Sarnath adalah tempat dimana Buddha memberikan ceramah pertama kepada kelima muridnya, Bodhgaya adalah tempat dimana Buddha mendapat nirvana atau pencerahan dan terakhir Kushinagar sebagai tempat wafatnya Buddha.

Seperti biasa, rombongan diantarkan ke hotel untuk check in, sarapan, meletakkan tas dan mencuci muka. Setelah itu tujuan utama adalah Universitas Nalanda. Situs sejarah bernama Universitas Nalanda ini sungguh memukau. Universitas Nalanda dikenal sebagai universitas tertua di dunia yang mampu menampung puluhan ribu mahasiswa dan ribuan pengajarnya. Selain ruang kelas, universitas ini memiliki bangunan asrama dan beberapa kuil di dalam kompleks.

Dalam sejarahnya, Universitas Nalanda sudah tiga kali dihancurkan oleh penjajah. Namun pembangunan kembali hanya dilakukan sebanyak dua kali. Megah, kaya akan arsitektur dan sungguh memanjakan mata. Dari gerbang universitas menuju reruntuhan utama mata ini dimanjakan dengan teduhnya pohon yang berderet di sepanjang jalan. Kanan kiri terdapat taman dengan rumput yang sangat bersih.

Ketika mencapai reruntuhan Universitas Nalanda, layaknya bangunan bersejarah lainnya, batu bata merah menjadi pondasi dasar bangunan. Saya pun berkeliling ke beberapa reruntuhan seperti ruang asrama mahasiswa, sampai di atas reruntuhan yang mungkin dulunya merupakan ruang kelas yang saat ini sudah hancur. Dari atas saya bisa melihat lorong-lorong yang dulunya dilalui para mahasiswa, sisa-sisa kuil yang ada di dalam wilayah universitas serta beberapa taman yang dalam bayangan saya mungkin sebagai tempat para mahasiswa dan pengajar duduk santai sambil berdiskusi. Ah sungguh pemandangan eksotis di sini. Ya, bagi saya India yang di sajikan di beberapa kota yang saya kunjungi justru lebih terasa di daerah pelosoknya. Kota besar seperti New Delhi dan Mumbai sudah memiliki peradaban yang cukup maju, sedangkan untuk mendalami India yang sebenarnya justru sangat kental terasa di pelosok.

Day 5

Mahabodhi Temple

Hari ini adalah hari terakhir saya berada di India. Lokasi terakhir yang akan saya kunjungi adalah salah satu dari empat tempat sakral umat Buddha, Mahabodhi Temple. Kuil ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Ashoka, kemudian dilanjutkan oleh dinasti berikutnya yaitu Kushana dan Gupta. Yang menarik adalah, dari sekian situs sejarah dan kuil yang saya kunjungi, dari mulai pintu masuk dan di sekeliling kuil pengunjung tidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Sepatu atau sandal dititipkan di bangunan samping gerbang masuk.

Mahabodhi Temple ini merupakan satu dari sekian warisan dunia. Bangunan utama kuil ini berbentuk piramid menjulang ke atas yang terbuat dari batu batu abu-abu setinggi sekitar 55 meter. Ada empat bangunan seperti candi di sekeliling kuil utama. Seperti kuil di India pada umumnya, terdapat beragam relief yang memanjakan mata yang mengelilingi bangunan ini. Di dalam kuil Mahabodhi terdapat altar Buddha yang mana pengunjung biasanya masuk untuk berdoa.

Namun, tempat utama dari kuil ini ada di belakang bangunan. Disanalah terdapat pohon Bodhi yang merupakan tempat Buddha mendapatkan pencerahan saat sedang bersemedi. Menurut tour guide kami, pohon Bodhi ini bibitnya berasal dari Sri Lanka.

Saya merasa sangat beruntung mengunjungi kuil ini. Ketika sedang mengambil foto kuil dan para bikhu yang sedang berdoa, selembar pohon jatuh tepat mengenai badan saya. Menurut tour guide kami, daun Bodhi yang jatuh mengenai badan adalah pembawa keberuntungan. Masalahnya, selama saya berada di sekitar bangunan, dua kali daun Bodhi jatuh mengenai badan saya. “You are so lucky” kata tour guide kami.

Mengelilingi Mahabodhi Temple udara sejuk dan semilir angin membuat cuaca panas menyengat yang sebelumnya sangat terasa perlahan menghilang. Saya melihat beberapa bikhu yang melakukan ritual berdoa atau sembahyang dengan cara yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Seorang bikhu berdiri di atas sebuah papan, ia bergerak seperti menunduk dan akhirnya menjatuhkan dirinya ke papan dan menggeser tubuhnya ke depan seolah tidur. Di kedua tangannya terdapat kain, mungkin agar tangan tidak lecet terkena papan karena gerakan itu dilakukan berulang-ulang. Saya tak mendapat penjelasan mengenai ritual ini. Tour guide kami hanya mengatakan bahwa para bikhu itu sedang bersembahyang.

Ya… hari terakhir kunjungan di India saya mendapatkan keberuntungan dan pengalaman menarik. Ya bagi saya India bukan hanya Taj Majal tapi India memiliki banyak tempat untuk dikunjungi. Selain masyarakatnya yang banyak, budaya, kuliner sampai lokasi bersejarah di India membuat saya benar-benar terpukau. Informasi sejarah dan pengetahuan membuat saya lebih paham tentang budaya lain. Sangat layak rasanya India melabeli dirinya dengan kalimat The Incredible India, because India is Incredible!!!.

Tips jalan-jalan di India :

  1. Gunakan alas kaki yang nyaman untuk dipakai mengunjungi situs-situs sejarah. Jarak gerbang menuju situs lumayan jauh untuk beberapa lokasi, kaki yang nyaman akan membuat perjalanan lebih nyaman.
  2. Secara geografis India diapit gunung dan gurun. Ini menjadikan udara di India cukup berdebu dan panas. Bawalah topi, syal atau penutup kepala. Kalau bisa bawa masker sebagai antisipasi debu yang memang banyak bertebaran khususnya di musim panas.
  3. Demi keamanan dan kenyamanan, gunakanlah pakaian yang sopan dan tertutup serta hindari berpergian di malam hari, khususnya bagi perempuan.
  4. Di beberapa lokasi wisata banyak penjual minuman seperti air jeruk yang terlihat nikmat, usahakan jangan tergoda. Belilah air kemasan yang lebih terjamin kebersihannya.
  5. Tiket masuk untuk turis dan masyarakat lokal sangat jauh berbeda. Misalnya di Humayun’s Tomb, masyarakat lokal diberikan harga 30 rupee, sedangkan turis 500 rupee.
  6. Varanasi adalah tempat penjualan kain saree termurah di India.
  7. Ketika mengunjungi beberapa ghat dan sedang ada upacara kremasi atau pembakaran mayat, jangan mengambil foto.
  8. Di bulan Oktober cuaca masih lumayan panas, usahakan membawa botol minuman karena di beberapa tempat tidak ada minimarket menjual air minum.
  9. Ikan teri sambal bisa dibawa bagi pelancong yang membutuhkan adaptasi untuk makanan India yang kaya akan rempah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *